About Ardhanary Institute

15 02 2009

ardhanary2Sepanjang sejarah di Indonesia, hak-hak Lesbian, Biseksual & Transgender (LBT) perempuan selalu dikekang, baik dengan alasan agama, budaya, serta nilai-nilai sosial yang dikekalkan dalam produk-produk hukum. Keberadaan kelompok Lesbian, Biseksual dan Transgender (LBT) perempuan di Indonesia, sampai saat ini belum mendapatkan pengakuan dan penerimaan dari masyarakat, mereka tetap saja mendapatkan beragam bentuk ketidakadilan, seperti kekerasan fisik, psikis, seksual, maupun ekonomi, yang terjadi di dalam rumah, sekolah, tempat bekerja, tempat ibadah dan masyarakat sekitar. Beragam stigma/ label, harus mereka terima, mulai dari sebutan abnormal, sakit, dosa, kotor, dan lain-lain. Konteks kristalisasi budaya yang patriarkhis memberi kontribusi yang besar dalam ragam ketidakadilan yang diterima LBT Perempuan serta pemahaman mengenal seksualitas, utamanya hak-hak seksualitas LBT perempuan.

Berangkat dari persoalan di atas maka didirikanlah ARDHANARY INSTITUTE sebagai lembaga yang menjadi pusat kajian, penerbitan dan advokasi hak-hak LBT perempuan di Indonesia, pada 14 November 2005 co-operation dari kelompok kepentingan LBT perempuan, Koalisi Perempuan Indonesia.

Simbol Ardhanary atau disebut juga Ardhanarishvara adalah Dewa pada abad ke 14 sebelum masehi yang menggambarkan penyatuan dua tubuh menjadi satu terdiri dari elemen femininitas (Dewi Parwati) dan maskulinitas (Dewa Syiwa) yang lalu disebut sebagai Androginitas. Patung Ardhanary dapat anda temui di museum Merdeka Barat – Jakarta.

Nama ‘Ardhanarishvara’ adalah kombinasi dari 3 kata yaitu: – ‘ardha’, ‘nari’ dan ‘ishvara’, yang berarti, Tuhan/ Dewa ‘setengah’, ‘perempuan’ dan ‘laki-laki’. Simbol dari Ardhanary ini juga merepresentasikan suatu proses transformasi, metamorfosis dan peralihan dari satu gender ke gender lainnya, yang menunjukkan variasi dari katagori identitas gender dan identitas seksual karena terdiri dari spectrum” orientasi seksual” bahwa manusia itu bisa saja dilahirkan sebagai laki-laki, perempuan atau transgender. Maskulin, feminine dan interseks. Begitu juga dengan orientasi seksualnya, tidak harus menjadi heteroseksual, tetapi boleh memilih menjadi homoseksual (gay, lesbian), biseksual dan transeksual. Disini menjadi jelas, bahwa sebenarnya identitas gender dan identitas seksual adalah pilihan (constructionism).

Makna symbol Ardhanary inilah yang menginspirasi Agustine, Afank, Lily, Erros dan Yuyun untuk menamai lembaga yang menjadi pusat kajian, penerbitan dan advokasi hak-hak seksual bagi lesbian, biseksual & transgender (LBT) perempuan dengan nama Ardhanary Institute.

VISION: ARDHNARY INSTITUTE bertujuan membangun terciptanya masyarakat yang menghargai dan melindungi hak serta pilihan seksualitas LBT perempuan.

MISI: Untuk mencapai tujuan, ARDHANARY INSTITUTE mempunyai misi sebagai berikut:  (1) Melakukan penguatan individu LBT Perempuan dengan membangun kelompok, (2) Membangun cara pandang baru tentang seksualitas di lingkungan masyarakat,  (3) Mendorong adanya kebijakan yang tidak diskriminatif terhadap pilihan seksualitas LBT perempuan.

PENDIRI: Rr. Agustine, Afank Mariani, Lily Sugianto, Yuyun Wahyuningrum, MA,  Erros

ADVISOR: Nursyahbani Katjasungkana, Antarini Pratiwi Arna, SH, LLM, Dra. Masruchah, DR. Saskia E. Wieringa (Netherland), DR. Evelyn Blackwood (USA), Pdt. Ester Mariani, Suma Mihadja.

Advertisements